Daya Saing Perbankan Indonesia

Penulis: Muhammad Afdi Nizar, Muhammad Fajar Nugraha, Masyitha Mutiara Ramadhan, Risyaf Fahreza, Zerah Aprial Pasimbong (2020)

Pengukuran indeks daya saing dilakukan dengan memanfaatkan pendekatan Lerner Index, yang pada prinsipnya mengamati perilaku perbankan dalam menentukanharga (yang diproksikan dengan pendapatan yang diterima bank) dan mengelola biaya-biaya operasional. Artinya, persaingan perbankan dalam pendekatan Lerner Indexini mengindikasikan adanya mark-upharga yang ditetapkan perbankan dan dibebankan kepada para pelanggan (nasabah), Mark-upini tercermin dari rasio perbedaan antara harga (output price) dan biaya marjinal (marginal cost), dibagi dengan harga. Harga dihitung sebagai total pendapatan bank atas aset, sedangkan biaya marjinal diperoleh dari perkiraan fungsi biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan output bank. Karena biaya marjinal tidak dapat diamati secara langsung,penghitungan biaya marjinal dilakukan dengan memproksikan fungsi total biaya melalui beban/biaya modal, pegawai, dan bunga, yang kemudian digunakan untuk penghitungan indeks Lerner. Indeks Lerner memiliki nilai antara nol dan satu. Indeks sebesar nol berarti daya saing rendah dan apabila nilai indeks mendekati 1 berarti daya saing bank semakin meningkat, seiring dengan bertambahnya market powerbank.

Perlakuan Perpajakan atas Zakat: Preferensi Publik dan Alternatif Kebijakan

Penulis: Imron, Subkhan, Risnandar, Era, Priska, Moh. Nasir, Achya, Pusat Kebijakan Sektor Keuangan (2020)

Zakat sebagai salah satu bagian penting dalam rukun Islam mempunyai fungsi utama untuk mensucikan harta. Namun demikian, zakat memiliki fungsi-fungsi lain yang berhubungan dengan kemaslahatan umat. Zakat memiliki fungsi sosial dengan membangun harmonisasi kehidupan sosial kemasyarakatan lewat sirkulasi kekayaan antara kaum yang kaya dan masyarakat miskin. Selain itu, zakat juga mempunyai fungsi yang terkait dimensi ekonomi yaitu dengan memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat terutama dengan adanya mekanisme penyaluran dana zakat lewat program pemberdayaan dan ekonomi produktif

Kajian Dampak dan Kontribusi Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) terhadap Perlindungan Sosial Pekerja dan Pendalaman Pasar Keuangan

Penulis: Yani Farida Aryani, Tuti Sariningsih Budi Utami, Bahtiar Fitkhasya Muslim, Afif Hanifah, Fatimatus Firda, Nurul Fatimah, dan Indica Wulansari, bekerja sama dengan LPEM-UI (2020)

Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) merupakan suatu program nasional yang bertujuan untuk memberikan perlindungan, dan jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup, serta meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam cakupan SJSN, terdapat program jaminan sosial ketenagakerjaan yang meliputi Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKm), dan jaminan sosial kesehatan berupa Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Studi ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh dan kontribusi dari SJSN terhadap perlindungan sosial pekerja. Selain itu, studi ini juga ingin mengetahui seberapa besar kontribusi SJSN terhadap pendalaman pasar keuangan.

Kajian Smart Sukuk: Potensi Pembiayaan UMKM dan Pendalaman Pasar Keuangan Syariah

Penulis: Imron, Subkhan, Risnandar, Priska, Lokot, Afif Hanifah (2020)

Penerbitan SmartSukukTM oleh Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Bina Ummah dengan difasilitasi oleh Blossom Finance melalui teknologi finansial atau tekfin blockchain, berhasil menghimpun dana sebesar Rp715 juta dan memberikan pembiayaan kepada 234 pelaku usaha mikro dan kecil. Hal ini merupakan suatu terobosan dalam keuangan syariah dengan terbukanya suatu peluang keuangan inklusif terhadap usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM melalui pembiayaan syariah berupa Smart Sukuk. Selain membuka peluang keuangan inklusif bagi UMKM, penerbitan Smart Sukuk juga membuka peluang pendalaman keuangan syariah sebagai suatu instrumen keuangan (investasi) yang menarik bagi investor, khususnya investor muslim dan generasi milenial.

Pandemi Covid-19 dan Stimulus Fiskal di Negara-Negara ASEAN+3

Penulis: Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (2020)

Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak negatif bagi perekonomian global termasuk kawasan ASEAN+3 dengan mempengaruhi elemen-elemen penting baik dari sisi pasokan maupun permintaan. Dari sisi pasokan, gangguan produksi terjadi karena penurunan kesehatan tenaga kerja dan kematian dan terganggunya logistik akibat pembatasan mobilitas (karantina). Sementara dari sisi permintaan, gangguan terjadi akibat meningkatnya ketidakpastian, kenaikan biaya dan penurunan pendapatan tenaga kerja yang secara simultan berpotensi mengurangi kemampuan daya beli, penutupan usaha, dan pemutusan hubungan kerja.